Sebuah
kota di bagian selatan jawa tengah. Tempatku dilahirkan, dibesarkan, hingga
mungkin kelak adalah tempatku dikebumikan. Aku tinggal di daerah timur dari Purworejo,
bernama Sidomulyo. Sebuah Desa yang masih sangat menjunjung tinggi nilai adat
istiadat. Daerah yang masih penuh bangunan semi permanen, seperti rumahku
sendiri. Entah kenapa, lebih nyaman tinggal di rumah semi permanen daripada di
rumah yang memakai tembok beton.
Purworejo,
tempat dimana Bedug terbesar di duna terdapat. Purworejo temasuk kota yang
masih asri. Luasnya daerah persawahan, masih banyaknya hutan lebat, jajaran
pegunungan yang begitu indah, ditambah lagi dengan tidak adanya bioskop membuat
orang orang disini harus membuat layar lebar sendiri hanya untuk sekedar nonton
film ramai ramai.
Tak
banyak yang berubah dari Purworejo, hanya saja jalanan aspal yang tadinya
berlubang seperti paru paruku kini sudah mulus kembali. Semulus paha sapi yang
sedang mejeng di padang rumput.
Perbaikan
infrastruktur semakin digiatkan, mulai adanya taman kota, dan lain lain. Tapi,
kini Purworejo semakin panas. Entah karena memang pemanasan global atau sedang
ada pembakaran batu bata.
Sungai
sungai di Purworejo termasuk bersih dari sampah, tak ada sampah plastik yang
menumpuk. Yang ada hanya sampah berwarna kuning yang mengambang di permukaan
air. Geli
Sebenarnya,
tak sedikit tempat pariwisata di Purworejo. Hanya saja, minimnya perawatan
& publikasi membuat tempat tempat itu menjadi sepi & terbengkalai.
Bahkan bisa melebihi keangkeran hati para jomblo yang sudah lama kosong tak
berpenghuni.
Hidup di
Purworejo kita harus banyak banyak prihatin. Nyari apa apa susah, alhasil kita
harus mengalah dan mencari barang yang kita cari itu ke kota terdekat. Yang
tentunya akan membutuhkan waktu dan biaya lebih untuk mendapatkannya.
Itulah
sedikit tulisanku tentang Purworejo. Sebuah kota kecil, banyak kimcil, namun
slalu di hati! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar